Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)
Haji Plus dan Umroh

Ketenangan dan Ketenteraman hati adalah salah satu faktor penting dalam menjalankah 'Ibadah Haji' maupun 'Umroh'. Apakah anda salah seorang yang mendambakannya ? Bergabunglah bersama kami QONITA WISATA ....Read more..

Kebun Renungan

Kebun Renungan
Bayak hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang luput kita syukuri, kemurahan Allah terlupakan sudah, kita harus membangun kembali kesadaran itu, mari kita belajar dari segelas air putih. (Baca)

Recent Post

Recent Comments

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Kunci dan Gembok Ka'bah

Senin, 14 Desember 2009

Pada mulanya kunci Ka’bah dipegang sendiri oleh Nabi Ismail as. Kemudian diwariskan kepada putranya Tsabit dan dieruskan kepada anak-anaknya. Lalu diberikan lagi kepada Jurhum, paman-pamannya dari garis ibu, sebelum akhirnya sampai kepada Khaza’ah, dan seterusnya hingga sampai ke tangan Qushai ibn Kilab, kakek keempat Nabi Saw.

Setelah pembebasan Kota Mekah pada tahun 8 H, Nabi Saw meminta kunci dari Utsman ibn Thalhah untuk membuka Ka’bah, lalu Beliau masuk kedalamnya dan tidak lama kemudian keluar.
Ketika keluar itu beliau bersabda “Ingatlah sesungguhnya setiap darah, harta dan perbuatan sewenang-wenang seperti pada masa Jahiliyyah adalah dibawah tanggungjawabku untuk mengurusnya, kecuali pekerjaan memberi minum orang yang sedang haji dan menjaga Ka’bah.

Sesungguhnya aku telah menetapkan keduanya untuk dikembalikan kepada berhak sebagaimana berlaku pada masa Jahiliyah.” Ucapan Nabi itu kemudian diikuti dengan turunnya Firman Allah Swt (“Sesungguhnya Allah telah menyuruh untuk menunaikn amanat kepada yang berhak atasnya.”). Rasulullah lalu memanggil Utsman ibn Thalhah dan mengembalikan kunci kepadanya, “ambillah ini wahai Bani Thalhah untuk selama-lamanya, sehingga tidak ada yang merebutnya kecuali orang zhalim.”

Menurut Ibn Katsir, banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun menyangkut Utsman ibn Thalhah, dan berdasarkan itu Kunci Ka’bah dikembalikan kepadanya oleh Nabi Saw. Setelah Utsman ibn Thalhah meninggal, kunci tersebut diberikan kepada anak pamannya (dari garis bapak) yaitu Syaibah dan diteruskan kepada anak-anaknya. Dari sinilah kemudian Kunci Ka’bah tersebut diwariskan secara turun temurun. Ucapan nabi Saw. mengenai ini juga mengisyaratkan adanya kesinambungan dan keabadian keturunan Bani Abi Thalhah. Serta keabadian tanggungjawab mereka mengurus dan menjaga Ka’bah sampai hari Kiamat.

Ini adalah bagian dari mu’ji’zat Nabi hingga sekarang. Sebab tugas merawat dan menjaga Ka’bah merupakan tugas paling besar dan mulia yang senantiasa diperebutkan oleh sang manusia, terutama para penguasa dan tokoh-tokoh masyarakat. Yang demikian itu tidak dikehendaki oleh sang Pemilik Jagat Raya ini, sehingga justru menyerahkannya kepada Bani Syaibah.

Kunci yang sampai sekarang turun temurun di tangan Bani Syaibah tersebut, mempunyai panjang 40 cm, dan disimpan dalam tas terbuat dari sutera yang dihias dengan emas murni, dan yang dibuat oleh pabrik kiswah setiap tahunnya. Diatasnya tertulis, (Surat An-Nisa ayat 58) sementara disisi lainnya tertera, “Amara bi shun’ihi Khadim al-Haramain al-Syarifain Fahd ibn Abdul Aziz alu sa’ud, hafizhohullah.” (dibuat atas perintah Penjaga Dua tanah suci Raja Fahd ibn Abdul Aziz dari keluarga Sa’ud semoga Allah melindunginya).

Gembok Pintu Ka’bah

Dibuat pada tahun 1399 H mengikuti bentuk gembok lama seperti pada masa Sultan Abdul Hamid al-Utsmani tahun 1309 H, dengan beberapa rancangan khusus yang disesuaikan dengan bentuk pintu baru.

Gembok ini [anjangnya 34 cm dengan lebar setiap sisinya 6 cm. Pada setiap sisi tertempel lempengan tembaga kuning berukuran 8 X 3 cm, tertulis diatasnya, “shuni’a fi ‘ahd Khalid ibn Abdul Aziz Ali Sa’ad sanah 1399 H” (dibuat pada masa pemerintahan Khalid ibn Abdul Aziz dari keluarga Sa’ad tahun 1399 H)


Sumber : Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Penerbit Al-Rasheed Printer

Readmore.....

Syair-syair Rabi’ah Al-'Adawiyyah

Kamis, 19 November 2009

Kebahagiaanku, wahai saudara-saudaraku, ada dalam khalwatku
Dan kekasihku, selamanya berada dihadapanku
Takkan kudapatkan untukku pengganti cintaNya

Cintanya didalam dunia adalah cobaanku
Dimana saja aku berada, aku selalu saja menyaksikan keindahannya.
Dialah Mihrabku,
Dan kepada-Nya lah kiblatku
Wahai kesenanganku, wahai segala harapan
Berilah kemurahan agar bisa bertemu dengan Mu
Yang akan menyembuhkan jiwaku
Aku tak akan mempedulikan mahluk seluruhnya
Aku hanya mengharap pertemuan dengan Mu
Itulah puncak segala tujuanku


Munajat Rabi’ah Al-Adawiyyah

(Pengembaraan paling jujur mengenai keimanannya yang mendalam, tauhidnya yang murni serta cintanya yang kukuh)

Wahai Tuhanku
Tidaklah aku mendengar suara hewan, gemersik pohon, gemersik air
Kicauan burung, indahnya rembulan, gema angina dan dan gelegar petir,
Melainkan aku telah mendapatinya sebagai saksi atas Keesaan-Mu
Sebagai dalil bahwa tak ada sesuatupun yang sama seperti-Mu

Wahai pemimpinku,
Kepada-Mulah kaum Muqarrabun mendekatkan diri kepa Tuhan di dalam khalwat-khalwat mereka,
Karena Keagungan-Mu lah ikan-ikan yang berada di dasar samudera melantunkan tasbihnya,
Karena besarnya Kesucian-Mu maka gelombang saling bertemu,
Engkaulah Dzat yang bersujud kepada-Mu,
Kegelapan malam, cahaya siang, orbit-orbit di tata surya, bintang yang jernih.
Dan segala sesuatu ada ukurannya disisi-Mu, karena
Engkaulah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Perkasa ….

Setiap kudengar Adzan, aku selalu terbayang seruan pada hari kiamat
Setiap menyaksikan es salju, aku selalu terbayang lembaran-lembaran yang beterbangan
Setiap aku menyaksikan belalang aku selalu terbayang pada padang mahsyar

sumber : buku Rabi'ah sang Obor Cinta : An-Nabawi Jaber Siraj dan Abdussalam A Halim Mahmud.

Readmore.....

Perbaikan Pintu Ka'bah

Perbaikan dan pembaharuan kedua pintu Ka’bah tersebut (pintu taubat berada di sebelah kanan dalam Ka'bah),tiada berhendi dilakukan sepanjang masa sesuai dengan kebutuhan dan kepantingan yang mendesak. Sampai-sampai Raja Khalid Ibn Abdul Aziz dari keluarga Sa’ud mengeluarkan intruksi untuk memperbaharui Pintu Ka'bah dan pintu Taubat yang dilapisi dengan emas murni.
Proyek ini selesai tahun 1399 H, dimana pembiayaannya menelan biara SR 13.420.000, tidak termasuk emas seberat 280 kg.

Struktur kerangka pintu tersebut dibuat dari tumpuan kayu setebal 10 cm, lalu dihiasi dengan ornament-ornamen dari emas murni.
Pembuatan keduanya memakan waktu setahun penuh terhitung dari tanggal 1/12/1398 H.

Keterangan :
Panjang Pintu Ka’bah : 3,10 m
Lebar Pintu Ka’bah : 1,90 m
Kedalaman :50 cm
Jarak dengan permukaan tanah : 2,25 m
Panjang Pintu Taubat : 2,30 m
Lebar Pintu Taubat : 70 cm

Ornamen-ornamen berupa kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an yang ada di Pintu Ka'bah tersebut, ialah untuk mengingatkan orang-orang yang berada didepannya akan kebesaran dan kemuliaan pintu-pintu tersebut, serta menyadarkan bahwa mereka kini berada di depan pintu Rumah Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Di kedua ujung atas pintu Ka’bah tertulis :" Muhammad Sholallahu ‘alaihi Wasallam.”
Sedangkan dari ayat Al-Quran ialah ( Bismillahirrahmanirrahim ), ( Qs 15 :46), (Qs 5;97), ( Qs 17;80), (Qs 6;54), ( Qs 39;53 ).
Sedangkan pada knop atau tombol pintu tertulis “ Allahu Akbar “, dibawah gembok tertera surat Alfatihah lengkap 7 ayat dan dibawahnya tertulis Suni’a al-bab al-sabiq fi ahd khadim al-haramaib al-Syarifain al-Malik Abdul ‘Aziz ibn Abdurrahman Alu Sa’ud sanah 1363 H ( Pintu yang lama dibuat pada masa Pelayanan Dua Tanah Suci, Raja Abdul Aziz ibn Abdurrahman dari keluarga Sa’ud pada tahun 1363 H).
Sedangkan dibawahnya ladi tulisan “Shuni’a hadza al-bab fi ‘ahd khadim al-haramain al-syarifatain al-Malik Khalid ibn Abdul Aziz ‘Alu Sa’ud sanah 1399 H ( Pintu ini dibuat pada masa Pelayanan Dua Tanah Suci, Raja Khalid ibn Abdul Aziz pada tahun 1399 H).

Sedangkan dibagian sisinya tertulis 15 nama-nama Suci Allah ( al-Asma’ al-Husna) yaitu, disisi atas dengan “ ya Wasi”, “ya Mani”,”ya naïf”; disisi kanan dengan, “ya ‘Alim, “ya Halim”, “ya ‘Adzim”, “ya Hakim”, “ya Rahim”, dan disisi kiri dengan “ya Ghani”, “ya Mughni”, “ya Hamid”, “ya Majid”, “ya Subhan”, “ya Musta’an”.

Sumber : Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Penerbit Al-Rasheed Printer

Readmore.....

Pintu Ka'bah

Rabu, 18 November 2009

Ketika pertama kali dibangun kembali oleh Ibrahim as, Ka'bah memiliki dua pintu yang menyentuh tanah (walaupun hanya sekedar lubang yang tidak ada tutupnya, sebagai tempat keluar masuk saja). Pintu Timur digunakan untuk masuk ke Ka’bah dan pintu Barat untuk jalan keluar.

Lalu Raja As’ad Tubba III, salah seorang raja dari Yaman membuatkan daun pintu yang dapat dibuka dan ditutup

Ketika kaum Quraisy merenovasi kembali Ka'bah, mereka menutup pintu Barat, sedangkan pintu Timur ditinggikan dari permukaan tanah dan daun pintunya dibuat dua.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa A’isyah ra. Pernah bertanya kepada Nabi Saw, “Mengapa pintunya ditingikan?
Rasululallah menjawab “ Kaummu lah yang melakukannya, agar dapat memasukkan siapa saja yang mereka kehendaki, dan melarang masuk siapa saja sekehendaknya. Jika saya tidak khawatir hati kaummu itu akan menyimpang karena baru saja keluar dari zaman Jahiliyyah, maka saya tentu akan membuatkan tembok di dalam Ka'bah itu, dan menyentuhkanpintunya ke tanah.”

Sumber : Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Penerbit Al-Rasheed Printer

Readmore.....

Pengakuan 1

(Sebuah prolog)

Mungkin aku terlalu egois mengumbar rasa, memaksakan satu kehendak hati tanpa menoleh hati
Keinginanku terlalu menggebu . . . namun rapuh, tidak menjaga kalau itu tidak kamu suka
Sungguh pengakuan yang paling murah
Tak ada pengaruh lagi untuk sebuah pernyataan yang berarti, yang bisa tumbuhkan rasa percaya dan ketentramanmu
Terlalu kuanggap wajar semua ini terjadi, sebagai pengembalian rasa sakit dan ketakpastian, yang mungkin dapat merubah sikap dan perhatianmu
Tapi ternyata . . .
Hanya menambah pemikiran dan pandanganmu semakin rendah,
Kusadari . . .
Luapan perasaanku sepihak

Mungkin batas ruang pikiranku terlalu sempit menerima kenyataan selama ini, tak bisa membaca kalau yang kulakukan selama ini ternyata cukup membuatmu kecewa, bahkan mungkin terlalu sakit
Itulah kebodohanku dan kekurangannya sebagai manusia biasa,
Punya salah dan mudah berubah
Terlalu jauh untuk sempurna tanpa hilaf dan salah

Sekarang . . . .
Terlanjur kamu membenci
Puaskanlah itu sepuas-puasnya, atau ….., tak akan pernah puas, tanpa batas …….
Tetaplah dalam kebencianmu
Sampai menemukan arti kebencian itu dan yakin kalau memang itu harus dibenci
Apapun pernyataanmu . . . . kuterima
Suatu kepasrahan dari yang merasa berdosa

Namun . . . .
Aku masih punya hati dan keinginan, punya cita dan harapan,
punya pribadi dan harga diri
Semoga bisa kembali dan dapat kulakukan yang terbaik
Tak ada apa-apa dibawah hati ini, selain merubah segalanya dan tak terulang lagi
Aku belum tahu . . .
Bagaimana mengungkap ucapan hati ini tentang ketulusan dan harapan, mengembalikan kepercayaan dan keteguhan
Mungkin . . . . . , terlalu berat dan sulit buat kamu
Ada satu harap “ semoga waktu memberimu tahu “
Aku tetap
Suka
Sayang
&
cinta
. . . . . . . . . . . . . . . . .


dari : Catatan yang tak tersampaikan
EAR*1991

Readmore.....

Ada satu hal penting dalam kehidupan beragama yang luput dari perhatian kita, yaitu 'Kesalehan Sosial' . Ternyata pahalanya bisa melebihi yang menunaikan Ibadah Haji. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ikutilah kisah religius seorang yang telah mempraktekan kesalehan sosial. Anda tertarik? ...Read more...
Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)